Meskipun sama-sama menendang bola dan kerap disebut pemain bola, ternyata adaoutput berbeda dari bermain futsal dan sepak bola atau dalam bahasa inggris dikenalsoccer. Hasil penelitian dalam artikel Agility assessment in female futsal and soccer playersmenunjukkan bahwa pemain futsal memiliki intelegensi yang lebih tinggi dari pemain bola, serta mampu membuat keputusan lebih cepat dari pemain bola. Hal ini dikarenakan banyak faktor, misalnya seperti penggunaan lapangan yang lebih kecil, bola yang lebih kecil dan berat, dan pemain yang lebih sedikit. Kondisi ini mengharuskan pemainnya untuk lebih cepat dan cerdas menentukan posisi dan membuat keputusan jika dibandingkan dengan bermain bola.
Penelitian yang dilakukan ini sebenarnya keluar dari batasan futsal atau sepak bola sebagai olahraga yang daya tarik bagi pemainnya adalah kesenangan atau kebutuhan akan sehat. Disebut keluar dari batasan adalah karena ternyata kedua olahraga ini memiliki nilai positif lain yang didapatkan oleh pemainnya diluar alasan pribadi dan medis meskipun hasilnya tidak sama. Mengeneralkan kedua olahraga ini menjadi bermain bola dan dipadankan dengan perempuan serta output lain yang menyangkut peningkatan potensi logika atau akademik penulis mencoba menarik diskusi dari sudut pandang feminis.
Seperti yang diketahui, asumsi dasar kaum feminis adalah gerakan emansipasi dan usaha melepaskan diri dari ‘belenggu’ dimana selama ini perempuan selalu dianggap sebagai subordinat laki-laki dan selalu dipinggirkan. Lebih spesifik pada analisis terkait semi artikel ini penulis mengambil asumsi dari buku berjudul ‘The Roudledge Companion to Feminism and Postfeminism’ (2006) yang di edit oleh Sarah Gamble, dimana salah satu bagiannya membahas mengenai Feminism and The Body karya Fiona Carson:
Artists and theorists informed by feminism do not reject the traditional alignment between women and body. Instead, they give it a subversive twist by playing on the concept of idealised femininity in such a way as to embrace the Kristevan notion of the female body as unruly, grotesque, and resistant to categorisation. … The voyeuristic pleasures of cinematic fantasy constructed women characters and female stars as fetishised objects of a ‘masculine’ gaze irrespective of the spectator’s gender. … how to intervene actively in this regime of looking, how to subvert dominant discourses of objectification, and what happened when women looked.
Fiona Carson mengawali analisisnya dengan mengkritik keterbatasan tubuh perempuan karena alasan patriarki, (menstruasi, aborsi atau melahirkan), kemudian adanya konstruksi perempuan melalui karakter dalam dunia perfilman untuk dijadikan sebuah fetish bagi pandangan laki-laki dari segi tubuh yang indah. Dalam perkembangannya, seorang filsuf asal Perancis Luce Irigaray yang juga fokus pada perjuangan feminis ini mencoba mencari symbol baru bagi tubuh perempuan yang terlepas dari definisi patriarkal.
Tulisan dari Fiona Carson mengenai feminis dan tubuh memiliki keterkaitan tidak langsung dengan para perempuan yang berprofesi sebagai pemain bola. Keterkaitan antara asumsi dari tulisan Fiona Carson dengan pemain bola perempuan terutama terlihat sekali dari segi apresiasi yang diberikan oleh masyarakat internasional terhadap karir mereka. Bentuk apresiasi yang diberikan oleh masyarakat internasional terhadap sepak bola perempuan memang meningkat, namun tidak signifikan bahkan jauh jika dibandingkan dengan sepak bola laki-laki. Hal ini disebabkan oleh alasan bernuansa gender, yakni konstruk olahraga sepak bola yang dilekatkan dengan laki-laki, dan konstruk reputasi (tubuh) perempuan yang kerap ditampilkan dan di idealkan melalui medi seperti perfilman atau iklan cenderung tidak terlihat pada para perempuan pemain bola.
Olahraga yang cenderung dilekatkan dengan laki-laki ini memang lebih banyak membutuhkan nilai maskulin, hal ini dibuktikan dengan beberapa teknik yang cenderung lebih berbahaya jika perempuan yang melakukannya, selain itu meskipun dilakukan dengan prinsip fairplay permainan bola yang tidak dapat diprediksi seringkali mengharuskan para pemainnya untuk beradu fisik dan tidak jarang terjadi kekerasan yang tidak disengaja. Jadi, unsur kekerasan yang biasanya dilekatkan pada laki-laki ini mungkin terjadi juga pada permainan bola perempuan karena sifatnya yang tidak dapat diprediksi. Namun meskipun demikian perkembangan saat ini olahraga sepak bola ini sudah banyak diminati oleh perempuan, bahkan sudah sejak lama mulai resmi dan dibuat dalam liga serta tournamenthingga tingkat piala dunia. Fenomena yang dapat dikatakan sebuah prestasi bagi perempuan ini tidak mendapat apresiasi yang baik dari masyarakat internasional, baik laki-laki maupun perempuan itu sendiri.
Meskipun sepak bola dilekatkan dengan laki-laki dan cenderung sangat maskulin, sepak bola adalah olahraga, hanya olahraga dimana bermanfaat bagi kebugaran tubuh dan mungkin penyaluran hobi bagi para penyukanya. Tidak ada larangan yang berarti bagi perempuan untuk bermain bola, beberapa kasus larangan biasanya sudah lari pada alasan privat atau cara pandang seseorang bukan secara hukum maupun norma-norma. Namun tidak dapat dipungkiri, bagi para perempuan yang gemar bermain bola kerap kali disebut sebagai perempuan yang sangat maskulin.
Pertanyaannya, benarkah demikian?
Jawabannya tentu saja terkait dengan konstruk tubuh ideal perempuan yang kerap kali diperlihatkan di media massa. Melalui perfilman dan iklan perempuan tidak hanya diidealkan dengan tubuh langsing, putih, dan membentuk seperti alat musik gitar namun cara bertingkah laku yang sering dipadankan pula dengan elegan dan tidak terlalu banyak bergerak. Konstruk yang telah lama dilekatkan dan mungkin juga secara tidak langsung dibebankan ini semata-mata untuk menjadi ‘hiburan’ bagi para laki-laki maskulin, karena seperti menjadi lebih indah dan nyaman untuk dilihat, apakah cara memandang perempuan dengan cara seperti ini adalah sebuah konstruk? Sepertinya iya.
Konstruk pada laki-laki yang berhasil ini juga mempengaruhi perempuan untuk memaksakan diri tampil dalam bentuk tubuh dan perilaku demikian untuk terlihat menarik dimata laki-laki. Inilah belenggu bagi perempuan dari segi tubuh yang ideal, serta tingkah laku yang melengkapinya. Serta, ini juga yang menjadi alasan mengapa tidak ada apresiasi yang baik dari masyarakat internasional bagi perempuan yang gemar atau berprofesi sebagai pemain bola. Untuk bermain bola, diperlukan fisik yang kuat dan pemainnya tidak bisa hanya berdiam diri bertingkah laku seperti yang dikonstrukkan dalam lapangan. Sepak bola yang dilekatkan dengan nilai maskulin memberikan kesimpulan bagi penontonnya jika para pemainnya jelas memiliki nilai yang sangat maskulin begiu juga dengan perempuan. Alih-alih diberikan apresiasi, perempuan yang bermain bola disimpulkan dengan dua pilihan, tidak lazim dan atau diragukan permainannya atau ke-perempuanan-nya.
Sebenarnya perkembangan sepak bola perempuan yang sangat pesat sudah seharusnya membuktikan bahwa perempuan bisa berolahraga yang awalnya dibuat hanya untuk laki-laki. Bahkan mematahkan asumsi bahwa sepak bola hanya cocok bagi laki-laki dna cenderung tidak bisa dilakukan oleh perempuan karena alasan patriarki maupun konstruk-kontruk yang ada. Penelitian yang menunjukkan adanya penggunaan logika dan pembuatan keputusan pada olahraga sepak bola terutama futsal sebenarnya juga merupakan bukti ilmiah bahwa perempuan yang selama ini dilekatkan dengan emosi juga tenyata bisa menggunakan logika seperti laki-laki melalui bermain bola.
Apresiasi yang kurang dari masyarakat internasional pasti beralasan pada konstruk dan tubuh perempuan itu sendiri. Namun, sudah seharusnya mulai saat ini hal itu dihapuskan. Perjuangan kaum Feminism yang dihubungankan dengan tubuh dapat maju dengan fenomena pemain bola perempuan. Feminism dan tubuh yang juga bernuansa politik karena berhubungan dengan cara memandang laki-laki terhadap perempuan harus mulai dirubah. Jika perempuan membuktikan dirinya mampu berada dilapangan dengan tidak ada satupun aturan yang diganti, artinya alasan partriaki sudah bukan asumsi yang relevan bagi laki-laki untuk merasa lebih kuat dibandingkan perempuan, apalagi nila-nilai yang dikonstruk. Bahkan fenomena pemain bola perempuan memberikan tambahan lain bahwa perempuan juga tidak tertinggal dari segi seni berfikir, dimana bermain bola mengharuskan pemainnya berfikir menggunakan logika bukan emosional.
Lantas, bukankah seharusnya hal ini patut diapresiasi? Argumen penulis, sudah tidak lagi. Jika analisis mengarah pada pembuktian bahwa alasan patriarki bukan sebuah hambatan, dan sisanya merupakan sebuah konstruk, maka fenomena perempuan bermain bola adalah normal dan harus dianggap biasa seperti laki-laki bermain bola. Apresiasi yang kurang dari masyarakat internasional mungkin juga disebabkan oleh sepak bola perempuan yang cenderung terlambat muncul. Selain itu dapat dipahami bahwa masyarakat internasional, bagi laki-laki masih ada saja yang merasa dirinya lebih diatas perempuan dalam hal bermain bola, dan juga perempuan yang terkonstruk bahwa sepak bola bukan olahraga yang dapat dipilih oleh mereka. Namun terlepas dari itu semua, semua pemaparan diatas seharusnya membuktikan bahwa siapa saja dapat berolahraga, bermain bola tanpa beban atau konstruk yang dilekatkan padanya.
Referensi:
Cinzia Benvenuti, Carlo Minganti, Giancarlo Condello, et al. 2010. Agility assessment in female futsal and soccer players. Medicina.
Gamble, Sarah. 2006. The Roudledge Companion to Feminism and Postfeminism. New York: Roudledge
Tidak ada komentar:
Posting Komentar