Kamis, 28 April 2016

Bipolar Sistem: Amerika Serikat vs China

Sistem internasional saat ini mengarah pada bipolar. Polar pertama tentu saja Amerika Serikat dan polar kedua diprediksikan China. Penggunaan kata diprediksi karena saat ini China belum benar-benar mengisi polar yang memiliki power seperti Amerika Serikat. Selain itu, dalam banyak penelitian dan argumen para ahli mengatakan bahwa kemajuan yang dilakukan oleh China tidak berdasar pada keinginan berhadapan dengan Amerika Serikat, melainkan sudah menjadi kebutuhan dan kewajiban. Dalam artikel dasar yang saya pilih berjudul “The U.S Hegemony and Implication for China” karya Min Ye, dipaparkan kebijakan luar negeri China sejak dulu hingga sekarang yang cenderung tidak berubah:
Anti-hegemony policy was traditional foreign policy in China since its establishment in 1949. … Throughout today, foreign decision-making in theory abides by the principle of anti-hegemony. Yet due to the nature of current US hegemony elaborated above, it is not in China’s interest to act as “head herd” of anti-US movement.

Apa yang menarik dari kepentingan China adalah bukan interest menjadi negara yang memiliki pengaruh besar di dunia, tapi dibalik itu China memiliki asumsi bahwa sistem internasional yang harus dihindari adalah ketika adanya hegemoni dari satu negara. Fenomena menarik ini bisa dilihat dari aksi kedua negara di benua Afrika. Sejak abad 19 akhir hingga saat ini keduanya semakin gencar memperluas pengaruhnya di benua Afrika, dimana kepentingan sumber daya minyak dan gas menjadi alasannya. Analisis pergerakan kedua negara di benua Afrika ini dapat ditemukan dari artikel karya Jedrzej George Frynas dan Manuel Paulo berjudul A NEW SCRAMBLE FOR AFRICAN OIL? HISTORICAL, POLITICAL, AND BUSINESS PERSPECTIVES. Dalam artikel ini penulisnya mengerucutkan aktornya pada Amerika Serikat dan China dan melihat dari 3 sudut pandang, yakni historis, politik/hubungan internasional dan bisnis.

Amerika Serikat dan China menggunakan cara pendekatan yang berbeda untuk mendapatkan perhatian dari negara-negara di Afrika. Amerika Serikat menggunakan cara pendekatan keamanan regional, beralasan ingin membanu memberantas isu terorisme di Afrika, hal ini sudah semakin intens dengan dibangunnya pangkalan militer di Djibouti. Sedangkan China memilih untuk menggunakan jalur ekonomi, menawarkan kerjasama dan bantuan ekonomi bagi negara-negara Afrika. Namun, melalui pendekatan apapun, inti kepentingan kedua negara disana adalah minyak. Sumber daya minyak di Afrika baru-baru saja diketahui memiliki kualitas yang lebih bagus daripada minyak yang dihasilkan oleh negara-negara Timur Tengah, selain itu negara-negara di Afrika menawarkan harga yang lebih murah, dan secara geografis, lebih dekat untuk dijangkau (Jedrzej George Frynas dan Manuel Paulo, 2006).

 Sekali lagi melalui fenomena di benua Afrika untuk mencari kilang minyak, Amerika Serikat dan China memiliki tujuan yang berbeda. Amerika Serikat jelas ingin terus menghegemon dan memperluas pengaruhnya dan tidak ingin terkalahkan, China tetap dikatakan tidak tertarik untuk bermain pada tataran ini. Mencari minyak bagi China di Afrika sebatas kebutuhan yang dilakukan diluar negara karena tidak terpenuhi didalam negaranya.

Selain di Afrika, kawasan Asia-Pasifik juga menjadi tempat beradunya kedua kekuatan negara ini. Kawasan Asia Pasifik saat ini mulai menjadi poros perhatian negara-negara di dunia tidak terkecuali Amerika Serikat. Pertumbuhan ekonomi di Asia Pasifik mulai diakui oleh dunia barat, terutama kebangkitan China.

If China continues its impressive economic growth over the next few decades, the US and China are likely to engage in an intense security competition with considerable potential for war. Most of China's neighbours, to include India, Japan, Singapore, South Korea, Russia and Vietnam, will join with the US to contain China's power. – John Mearsheimer

Prediksi John Mearsheimer dalam artikelnya ini meleset. Kebangkitan China tidak dalampeaceful, melainkan sebaliknya. Negara-negara di Asia Pasifik mendukung China tanpa ada perasaan insecure dan bahkan melihat China dapat menjadi benteng regional Asia dari barat. Kondisi ini mungkin terjadi akibat dari adanya interdependency ekonomi antara China dengan negara-negara berkembang di Asia Pasifik. Dalam kunjungan Sembilan harinya ke Kawasan Asia Pasifik, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Hillary Rodham Clinton mengemukakan kebijakan-kebijakan luar negeri Amerika Serikat untuk Kawasan Asia Pasifik dibawah pemerintahan Presiden Barrack Obama, diantaranya adalah:
  1. Mendukung persahabatan dan persekutuan dengan Jepang, Korea Selatan, Thailand, Filipina dan Australia.
  2. Membahas tantangan global dengan China.
  3. Memperkuat hubungan AS-India.
  4. Membangun kerjasama dengan Asia Tenggara.
  5. Membatasi proliferasi nuklir.
  6. Terlibat secara langsung dengan beberapa kelompok yang ada di luar pemerintah.
  7. Merangkul dengan Myanmar.
  8. Mengejar kepentingan bersama melalui keterlibatan multilateral.

Delapan poin diatas ditekankan dalam pidatonya, “Saya ingin menggarisbawahi bahwa kami kembali untuk tinggal."  Kawasan Asia-Pasifik merupakan kawasan prioritas bagi Amerika Serikat, kata Clinton, sambil menambahkan bahwa "Masa depan Amerika terkait erat dengan masa depan Asia-Pasifik, dan masa depan kawasan ini tergantung pada Amerika (Altaf, 2010). Selain itu, pada pertengahan tahun 2012 lalu, Menteri Pertahanan Amerika Serikat Leon E. Panetta mengumumkan akan menempatkan 60% kapal perangnya di kawasan Asia Pasifik hingga 2020 (Tempo 2012).

Kondisi-kondisi diatas cukup merepresentasikan bagaimana Amerika Serikat saat ini melakukan berbagai cara dari banyak sektor yang berporos di Asia-Pasifik. Sedikit banyak kondisi ini juga akan membawa negara-negara yang tidak berkubu untuk memikirkan akan berlabuh pada kekuatan Amerika atau China. Pengaruh kebijakan-kebijakan Amerika Serikat di Asia-Pasifik sangat besar terutama bagi negara-negara yang sejak sebelumnya sudah bersekutu, seperti Jepang, Korea Selatan, dan beberapa negara lainnya. Amerika Serikat bahkan selalu terlibat dalam konflik-konflik yang terjadi di Asia-Pasifik, contohnya Laut China Selatan.

Meskipun saat ini ketergantungan terhadap barat sudah berkurang, itu baru nampak jelas dari sektor ekonomi. Asia-Pasifik yang dikabarkan meningkatkan anggaran militer dan pertahanannya dalam pembelian senjata harus terus ditingkatkan. Bagi negara-negara yang memilih untuk non-blok seperti Indonesia, kondisi ini cukup memprihatinkan. Apalagi, Amerika Serikat melihat Indonesia sebagai negara dengan geopolitik yang strategis dan menjadi salah satu prioritasnya untuk dijadikan sekutunya.

Kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan oleh Amerika Serikat tidak pernah diakui untuk membendung kekuatan China meskipun dalam prakteknya hal ini sudah jelas terlihat. Pengaruh yang cukup besar ditunjukkan melalui sekutu-sekutu Amerika Serikat yang mulai membangun kekuatan mereka sendiri didalam Asia-Pasifik yang tentu saja dengan bantuan Amerika Serikat. Sedangkan, bagi negara-negara di ASEAN khususnya, kawasan Asia Tenggara ini lebih banyak memilih hubungan dengan Amerika Serikat dan China melalui ASEAN sebagai upaya dari menahan hegemoni yang pasti terjadi. Meskipun Amerika Serikat tidak sekuat beberapa tahun ke belakang secara ekonomi, namun Amerika Serikat masih memiliki cukup kekuatan untuk sedikit banyak membendung kekuatan China yang dilakukan dengan cara-cara cerdas tanpa harus bersentuhan langsung dengan China.

Berdasarkan analisis diatas dapat disimpulkan adanya kemungkinan terjadi bipolar sistem lagi lepas Perang Dingin, Amerika Serikat dan China. Meskipun keduanya tidak menampakkan ciri untuk berkonflik terang-terangan, namun tampak jelas keduanya terus meningkatkan kapabilitas power negaranya.

Referensi:

1. Artikel pilihan: Ye, Min. (Ph.D. Candidate, Princeton University ). The U.S Hegemony and Implication for China.

2. Frynas, Jedrzej George dan Manuel Paulo. 2006. A NEW SCRAMBLE FOR AFRICAN OIL? HISTORICAL, POLITICAL, AND BUSINESS PERSPECTIVES. Published by Oxford University Press

3. Tempo. 2012. 60 Persen Kapal Perang AS di Asia-Pasifik 2020. Pada 9 Desember 2013 dari:

4. Althaf. 2010. Clinton Beberkan Kebijakan AS Di Asia-Pasifik. Pada 9 Desember 2013 dari:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar