Kondisi internasional saat ini masih cenderung dikuasai oleh Amerika Serikat, meskipun sudah ada negara penyeimbang dari segi ekonomi yakni China. Dalam banyak literature dikatakan bahwa poros pusat dunia akan segera berpindah dari kawasan negara-negara Barat (Amerika Serikat dan Eropa) ke kawasan Asia-Pasifik. Prediksi ini beralasan, selain China semakin maju dan kuat, negara-negara di Asia-Pasifik menunjukkan grafik signifikan ke arah yang lebih maju, hal ini didorong oleh banyaknya kerjasama regional termasuk ASEAN. Tidak dapat dipungkiri, bergerak sebagai sebuah kesatuan regional ternyata lebih efektif dan bahkan mampu membuat negara adidaya sekelas Amerika Serikat khawatir. Namun meskipun perkembangan di kawasan Asia-Pasifik terbukti nyata ke arah internal ternyata masih ada beberapa aspek yang kestabilannya dipengaruhi oleh faktor eksternal, seperti sektor keamanan kawasan.
Perdana Menteri Singapura Lee Hsien Loong mengatakan kestabilan kawasan Asia Pasifik sangat bergantung hubungan China dan Amerika Serikat. Untuk itu kedua negara dituntut untuk menjaga hubungan baik (Merdeka, 2013). Tentu saja argument ini mengarah pada persaingan power dan pengaruh yang diharapkan tidak perlu dihiasi dengan hubungan yang buruk karena akan mengarah pada pertempuran. Dari apa yang terjadi dilapangan hubungan antara China dan Amerika Serikat tidak semulus yang diharapkan. Meskipun ada peningkatan kerjasama melalui teknik baru yakni diplomasi publik pada bidang low politicsseperti ekonomi dan budaya, keduanya masih terus saling mengancam dari bidang militer dan pertahanan keamanan. Bahkan hal ini sangat jelas terlihat dari kebijakan Amerika Serikat yang terus menambah pangkalan milternya dikawasan Asia-Pasifik.
Apa yang ingin dibahas dari semi artikel ini adalah seberapa besar pengaruh hubungan China-Amerika Serikat bagi keamanan regional Asia-Pasifik? Dimana peran Indonesia sebagai salah satu negara yang berpengaruh di Asia-Pasifik terhadap hubungannya dengan Amerika Serikat maupun China secara geopolitik, geostrategi, dan geoekonomi? Pertama saya harus memaparkan terlebih dahulu kemampuan dari China dan Amerika Serikat untuk meluaskan pengaruhnya di dunia, dimana ternyata keduanya sama-sama menggunakan smart power. Smart power means learning better how to combine our hard and soft power (Joseph Nye, 2004). Smart power yang menggabungkan kapabilitas hard power dan soft power oleh sebuah negara untuk mencapai kepentingannya ini dapat dibuktikan pada aksi dari China dan Amerika Serikat. Melihat kapabilitas kedua negara jika diadukan cenderung berimbang, Amerika Serikat unggul dari teknologi militer dan memiliki budaya popular yang disukai oleh masyarakat internasional. Teknologi dan sekutu Amerika Serikat masih ada disetiap penjuru dunia, budaya popular seperti dunia perfilman dan musik, Amerika masih menjadi salah satu sumber referensi bagi negara lainnya. Sedangkan China saat ini lebih unggul dari segi ekonomi, China juga terus menambah jumlah tentaranya dan baru saja dikabarkan membeli sebuah kapal induk. Dari segi budaya, China cenderung menyebarkan budaya tinggi seperti nilai-nilai kepercayaan, sejarah kekakisaran yang hingga kini masih terjaga peninggalannya dan seringkali dijadikan tempat wisata yang sebagiannya disebarkan melalui new media seperti film.Kedua kemampuan negara ini diterima dengan baik dan disukai oleh masyarakat internasional, maka simpulannya kapabilitas kedua negara secara umum berimbang.
Perhaps the greatest challenge to American policymakers from China’s rise is on the United States’ own domestic political front. The specter of Chinese military power clearly has the potential to alarm the American public. … Even though China presents challenges to US supremacy, the two sides are not bound for conflict. China and the United States share a wide variety of broad common interests that yield opportunities for global partnership. … The United States is still the primary actor in international affairs. China does not now look to challenge it in that role, but China clearly challenges current US assumptions about that role. (C. Fred Bergsten, dkk 2008)
Hubungan internal kedua negara tidak benar-benar bermusuhan. Hal ini terlihat dari masih adanya jalinan kerjasama yang dilakukan terutama pada sektor ekonomi. Keduanya masih melakukan investasi di negara satu sama lain, dan masih melakukan transaksi ekspor impor, bahkan rasa keingintahuan terhadap nilai-nilai budaya satu sama lain meningkat. Kedua negara sama-sama tetarik untuk mempelajari budaya dan sejarah satu sama lainnya melalui diplomasi publik. Namun meskipun begitu, ketertarikan ini tidak dapat diartikan langsung sebagai sebuah respon positif dari keduanya untuk lebih saling mengenal agar terhindar dari konflik, ini terlihat dari peningkatan yang terus ditingkatkan dari segi militer oleh keduanya.
Apa yang harus lebih diperhatikan adalah apabila hubungan kedua negara ini memburuk dan mengarah pada jalur perang maka yang menjadi tempat peperangan adalah kawasan Asia-Pasifik. Diprediksi demikian adalah karena semakin banyaknya pangkalan militer yang didirikan oleh Amerika Serikat di negara-negara Asia-Pasifik. Pangkalan-pangkalan militer Amerika Serikat ini berdiri bukan tanpa alasan dan bahkan berbicara banyak, selain kepentingan nasional Amerika Serikat yang kini berpindah dari Timur Tengah ke Asia-Pasifik adalah tentu saja alasan untuk mengepung China sedari dini. Sebenarnya sampai saat ini, sebagian negara ASEAN sudah menentukan kubunya dan ini telihat dari ketersediaan mereka menyediakan wilayah negaranya untuk dijadikan pangkalan militer Amerika Serikat, yakni ada Malaysia, Singapura, Thailand, dan Filiphina. Bahkan lebih luas lagi, dari arah selatan Indonesia Amerika Serikat sudah menyimpan sekitar 60% kekuatan militernya di Australia, selain itu adapula pangkalan militer di Korea Selatan.
Lalu, bagaimana dengan Indonesia yang merupakan bagian dari negara dikawasan Asia-Pasifik? Melihat secara geostrategis, Indonesia juga terkepung oleh pangkalan-pangkalan militer Amerika Serikat, bahkan memiliki jarak yang lebih dekat daripada China. Pertanyaan selanjutnya adalah apakah Indonesia merupakan salah satu target yang dikategorikan berbahaya oleh Amerika Serikat? Bisa jadi iya. Kemungkinan ini ada disebabkan oleh sikap dan kebijakan luar negeri Indonesia yang bebas aktif, dimana hingga saat ini Indonesia tidak pernah menentukan sikap untuk bergabung secara terbuka dengan negara adidaya mana, antara China dan Amerika Serikat. Sejak merdeka Indonesia tidak pernah secara terbuka menyatakan sikap berada pada kubu negara mana yang sedang berkuasa dalam sistem internasional, Indonesia selalu memilih netral dan bersikap bebas-aktif dan begitu pula yang terjadi saat ini. Ternyata menjadi negara netral bukan berarti tidak erlibat dalam situasi lingkungan internasional, hal ini dibuktikan dengan terungkapnya sadapan oleh Australia yang disokong oleh Amerika Serikat terhadap Indonesia. Mulai bermasalah dengan negara Amerika Serikat dan sekutu terbesarnya di Asia-Pasifik Australia, berbanding terbalik dengan hubungan Indonesia dan China yang justru semakin erat dari mulai kerjasama bilateral maupun melalui regional.
Tidak dapat dipungkiri bahwa hubungan China dan Amerika Serikat berpengaruh besar bagi kestabilan di Asia-Pasifik terutama sektor keamanan. Meskipun China seperti tidak tertarik mengambil posisi Amerika Serikat sebagai negara hegemon di dunia, namun perkembangan China sangat mengkhawatirkan Amerika Serikat. Layaknya manusia, negara bertingkah laku sama dimana tidak ada yang ingin melepaskan atau berganti pada posisi yang lebih rendah atau singkatnya tersaingi. Bagi Indonesia sendiri, sepertinya sudah harus menentukan sikap. Menjadi netral bukan pilihan yang bijaksana, terutama pada kondisi internasional saat ini. Mau atau tidak, Indonesia pasti akan terlibat pada peristiwa-perstiwa di Asia-Pasifik. Kemudian, jika prediksi oleh banyak ilmuwan sampai pada kenyataan, baik itu Asia-Pasifik menjadi poros dunia internasional terlepas dari melalui jalur konflik terlebih dahulu atau tidak, Indonesia menjadi salah satu wilayah pertempuran secara geostrategi. Sedangkan secara geopolitik dan geoekonomi, meskipun tidka menyatakan secara terbuka kebijakan luar negeri dan sikap Indonesia cenderung lebih mengarah pada China, hal ini bukan hanya letak yang berdekatan namun juga terkait masalah penyadapan yang dilakukan oleh sekutu Amerika Serikat, yakni Australia.
Referensi:
Bergsten, C. Fred, Charles Freeman, dkk. 2008. China’s Rise Challenges and Opportunities. Washington DC: United Book Press
Merdeka. 2013. Kestabilan Asia-Pasifik Tergantung Hubungan AS dan China. Dilihat pada 8 Desember 2013 dari: http://www.merdeka.com/uang/kestabilan-asia-pasifik-tergantung-hubungan-as-china.html
Nye, Joseph. 2004. Soft Power. New York: Public Affairs
Wilson, Ernest J. 2011. 2012: A CRITICAL YEAR TO BUILD THE FUTURE OF CHINA - US RELATIONS THROUGH PUBLIC DIPLOMACY. Presentation to the Foreign Affairs Committee, Chinese People’s Political Consultative Conference (CPPCC National Committee)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar